
JAMBI – Keluarga merupakan madrasah pertama bagi setiap anak. Sebelum mereka mengenal guru di sekolah, anak terlebih dahulu belajar tentang kasih sayang, komunikasi, dan nilai-nilai kehidupan dari orang tuanya. Oleh karena itu, membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter, akhlak, serta kepercayaan diri anak sejak dini.
Melalui materi yang dipelajari dalam PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) yang diselenggarakan oleh Auladi Parenting School Bandung dan digagas oleh Abah Ihsan (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari), orang tua diajak memahami bahwa kedekatan dengan anak tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang atau fasilitas yang mewah. Justru, hubungan yang kuat dibangun dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Salah satu materi yang sangat relevan adalah “3 Cara Sederhana Membangun Kedekatan dengan Anak”, yaitu melalui bermain bersama, meluangkan waktu untuk mengobrol, dan belajar bersama.
Bermain Bersama Anak
Bermain bukan hanya aktivitas untuk mengisi waktu luang. Ketika orang tua ikut terlibat dalam permainan, anak akan merasa diterima, dihargai, dan dicintai. Interaksi sederhana ini menjadi sarana membangun rasa aman sekaligus memperkuat ikatan emosional yang akan menjadi bekal penting bagi perkembangan sosial dan psikologis anak.
Luangkan Waktu untuk Mengobrol
Komunikasi yang hangat tidak harus dimulai dengan pembicaraan yang serius. Mendengarkan cerita anak sepulang sekolah, memberikan perhatian penuh saat mereka berbicara, serta menghindari distraksi seperti telepon genggam adalah bentuk penghargaan yang sangat berarti bagi mereka. Anak yang merasa didengarkan akan lebih mudah terbuka kepada orang tua dan memiliki rasa percaya diri yang lebih baik.
Belajar Bersama Anak
Banyak orang tua merasa harus menjadi sosok yang mengetahui semua jawaban. Padahal, anak tidak menuntut kesempurnaan. Mereka lebih membutuhkan orang tua yang bersedia menemani proses belajar, memberikan semangat, dan menjadi rekan dalam menemukan jawaban bersama. Kehadiran seperti inilah yang akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat.
Dalam materi PSPA juga ditekankan bahwa anak mungkin akan melupakan mainan yang pernah dibelikan, tetapi mereka akan selalu mengingat waktu yang dihabiskan bersama orang tuanya, percakapan yang penuh perhatian, dan momen belajar yang menyenangkan. Pesan ini menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bagi masa depan anak bukan semata-mata materi, melainkan kehadiran orang tua dalam setiap fase pertumbuhan mereka.
Melalui edukasi parenting yang terus dikembangkan, SIT An-Nahl berkomitmen membangun sinergi antara sekolah dan keluarga. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga lahir dari kolaborasi yang harmonis antara guru dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Mari mulai dari langkah sederhana hari ini. Luangkan sekitar 45 menit setiap hari: 15 menit bermain bersama anak, 10 menit mengobrol dari hati ke hati, dan 20 menit belajar bersama. Kebiasaan kecil yang dilakukan dengan penuh cinta akan melahirkan kenangan indah sekaligus membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak mulia, dan siap menghadapi masa depan.
Karena pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang hadir.
Semoga keluarga-keluarga di SIT An-Nahl senantiasa menjadi rumah pertama yang menghadirkan kasih sayang, keteladanan, dan pendidikan terbaik bagi setiap generasi yang Allah amanahkan.





